“Ulama Perempuan Penggerak Perubahan”

Dari pesantren, ruang akademik, hingga panggung nasional dan internasional, Nyai Hj. Badriyah Fayumi menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi ulama, intelektual, pemimpin, sekaligus penggerak perubahan tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai pesantren.
Dari Kajen Menuju Al-Azhar
Lahir di Kajen, Pati, Jawa Tengah, pada 5 Agustus 1971, Nyai Hj. Dra. Badriyah Fayumi, Lc., MA tumbuh dalam keluarga pesantren yang kuat dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Ayahnya, KH Ahmad Fayumi Munji, merupakan hakim Pengadilan Agama sekaligus pengasuh pesantren, sementara ibunya, Nyai Hj. Yuhanidz Fayumi, merupakan perempuan pesantren yang aktif dalam pendidikan dan organisasi keumatan.
Sejak kecil, Badriyah akrab dengan kitab kuning, kajian fikih dan tafsir, serta teladan keluarga yang menjunjung kemitraan dan kesetaraan. Pendidikan tersebut kelak menjadi fondasi perjuangannya dalam memperkuat keadilan gender dalam perspektif Islam.
Perjalanan intelektualnya berlanjut ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Jurusan Tafsir-Hadits Fakultas Ushuluddin. Ia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi dan aktif dalam berbagai organisasi serta forum intelektual. Ia lulus sebagai Sarjana Terbaik Fakultas Ushuluddin pada Wisuda ke-59. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, dan meraih Licence (Lc.) dalam Tafsir dan Ulumul Qur’an. Sepulang dari Mesir, ia kembali ke almamater dan menyelesaikan pendidikan Magister (MA) dalam ilmu tafsir.
Ilmu yang Hidup dalam Pesantren
Hubungan Badriyah dengan Fakultas Ushuluddin tidak berhenti setelah lulus. Ia pernah menjadi dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta pada 1997–2004.
Bersama suaminya, KH Abu Bakar Rahziz, MA, ia mendirikan Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits pada 2008. Pesantren yang pada 2025 dihuni sekitar 1.000 santri tersebut menjadi bentuk nyata penerusan tradisi keilmuan Tafsir-Hadits yang diperolehnya di Fakultas Ushuluddin.
Bagi Badriyah, ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu harus hadir dalam kehidupan, membentuk karakter, menjawab persoalan masyarakat, dan menjadi jalan pengabdian.
Menjelajah Berbagai Ruang Pengabdian
Kiprah Badriyah Fayumi menunjukkan luasnya medan pengabdian seorang ulama perempuan. Ia pernah menjadi Staf Ahli Ibu Negara (2000–2001), pengisi tetap kuliah Subuh di televisi swasta (2002–2005), Redaktur Ahli Majalah Noor (2003–2018), Anggota DPR RI (2004–2009), Komisioner dan Ketua KPAI, Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI), hingga anggota Majelis Masyayikh Republik Indonesia sejak 2021.
Di luar jabatan formal, ia aktif dalam organisasi keagamaan, pesantren, komunitas perempuan, majelis taklim, lembaga swadaya masyarakat, serta berbagai forum keulamaan. Selama sembilan tahun, 2015–2024, Badriyah menjadi Ketua Alimat, salah satu lembaga yang menjadi inisiator Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).
Di lingkungan MUI, Badriyah pernah menjadi anggota Komisi Fatwa dan kemudian menjalankan amanah sebagai Wasekjen MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga. Kehadirannya dalam ruang fatwa menjadi bagian penting dari penguatan otoritas ulama perempuan dalam diskursus keagamaan.
Menyuarakan Keadilan Gender
Salah satu tema utama perjuangan Badriyah Fayumi adalah keadilan gender dalam Islam. Ia berupaya membaca teks keagamaan dengan mempertimbangkan pesan substantif mengenai keadilan, kesetaraan, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Isu yang menjadi perhatian antara lain perkawinan anak, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hak-hak perempuan dalam keluarga, serta kepemimpinan perempuan. Baginya, perempuan bukan sekadar objek pembicaraan keagamaan. Perempuan juga memiliki hak untuk menjadi subjek pengetahuan, penafsir, pengambil keputusan, dan penggerak perubahan.
Karya yang Menjadi Jejak Pemikiran
Produktivitas intelektual menjadi bagian penting dari perjalanan Badriyah. Selama menjadi Redaktur Ahli Majalah Noor pada 2003–2018, ia menulis sedikitnya tiga judul setiap bulan sesuai tema edisi. Ia juga menghasilkan ratusan materi presentasi untuk berbagai forum ilmiah, dakwah, dan gerakan.
Di antara karya dan kontribusinya adalah keterlibatannya dalam penyusunan “Keadilan & Kesetaraan Gender (Perspektif Islam)” (2001), serta “Halaqah Islam: Mempelajari Perempuan, Hak Asasi Manusia dan Demokrasi” (2004).
Kajian akademiknya diperdalam melalui tesis “Konsep Ma’ruf dalam Ayat-Ayat Munakahat dan Kontekstualisasinya dalam Beberapa Masalah Perkawinan di Indonesia” (2008). Ia juga menulis “Dari Harta Gono Gini hingga Izin Poligami” (2015) dan berkontribusi dalam berbagai antologi, termasuk Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan. Pada 2024, ia menerbitkan “Tutup Auratmu, Buka Pikiranmu”, sebuah refleksi mengenai perempuan Muslim yang kritis sekaligus tetap memiliki identitas religius.
Bersama tim, ia menyusun berbagai modul mengenai fikih perempuan, keluarga maslahat, keluarga sakinah, kesehatan reproduksi remaja, dan dakwah. Karya-karya tersebut digunakan dalam pelatihan kader ulama perempuan, kader NU, komunitas pesantren, pelajar, calon pengantin, dan masyarakat umum.
Salah Satu Motor Kongres Ulama Perempuan Indonesia
Nama Badriyah Fayumi tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). KUPI menjadi ruang penting bagi ulama perempuan dari berbagai daerah dan negara untuk mempertemukan pengetahuan keagamaan, pengalaman masyarakat, serta kebijakan publik.
Sebagai Ketua Majelis Musyawarah KUPI sejak 2015, serta Ketua Steering Committee KUPI I (2017) dan II (2022), ia turut berperan dalam konsolidasi gerakan ulama perempuan, produksi pengetahuan, pengawalan hasil musyawarah keagamaan, serta advokasi kebijakan.
Gerakan KUPI juga berkontribusi dalam berbagai isu kebijakan publik, termasuk pembahasan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, perubahan usia minimal perkawinan perempuan dalam revisi UU Perkawinan, serta isu kesehatan perempuan.
Pengakuan atas Pengabdian
Perjalanan panjang Badriyah Fayumi mendapatkan apresiasi dari berbagai lembaga. Pada 2012, Kementerian Agama RI memberikan apresiasi sebagai Tokoh Pesantren Peduli Perempuan dan Anak.
Pada 2022, ia menerima IKALUIN Award kategori Pegiat Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam mendorong gerakan ulama perempuan dan perlindungan perempuan serta anak berbasis perspektif keislaman.
Pada 2023, dalam peringatan Hari Ibu ke-95, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI memasukkan Badriyah Fayumi sebagai salah satu dari 95 Perempuan Tangguh dan Menginspirasi.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia tercatat sebagai A’wan Syuriyah PBNU periode 2021–2026. Ia juga menjadi salah satu perempuan yang dipercaya sebagai Amirul Hajj pada 2023, serta menjadi salah satu dari tiga perempuan yang bertugas sebagai Mustasyar Diny Haji 2025.
Ulama Perempuan yang Menjadi Penuntun Arah
Perjalanan Nyai Hj. Badriyah Fayumi memperlihatkan bagaimana pendidikan pesantren, tradisi akademik, pengalaman organisasi, serta keberanian memasuki ruang publik dapat berpadu menjadi kekuatan perubahan.
Ia membuktikan bahwa menjadi ulama perempuan bukan hanya tentang penguasaan ilmu agama. Keulamaan juga membutuhkan keberanian untuk hadir di tengah persoalan masyarakat, kemampuan membaca perubahan zaman, dan komitmen untuk memastikan agama menjadi sumber rahmat, keadilan, serta kemaslahatan.
Dari Kajen menuju Jakarta, Kairo, pesantren, parlemen, lembaga negara, MUI, NU, hingga panggung KUPI dan forum internasional, Badriyah terus membawa satu benang merah: ilmu harus dihidupkan dalam pengabdian dan diarahkan untuk menghadirkan keadilan.
Bagi generasi muda, khususnya perempuan pesantren, kisah Badriyah menjadi pesan bahwa akar tradisi tidak harus menjadi batas untuk melangkah. Justru dari akar yang kuat, seseorang dapat tumbuh menjadi intelektual, ulama, pemimpin, dan penggerak perubahan.
Penasaran dengan kisah lengkap Bu Nyai Badriyah Fayumi? Nantikan peluncuran buku “Pengukir Jejak, Penuntun Arah: 25 Tokoh Inspiratif Alumni Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” pada perayaan Milad Fakultas Ushuluddin. Stay tuned!
Penulis: Tri Indah Annisa
