Ilmu, Iman, dan Kemanusiaan

Prof. Ahmad Najib Burhani (1994–1999)

Perjalanan Intelektual dari Blitar

Perjalanan intelektual Prof. Ahmad Najib Burhani merupakan kisah tentang bagaimana ilmu, iman, dan pengalaman hidup dapat membentuk seorang cendekiawan yang menjadikan kemanusiaan sebagai pijakan utama. Lahir dan tumbuh di Blitar, Jawa Timur, dalam keluarga sederhana yang kuat dengan nilai-nilai keislaman, Najib sejak kecil telah menunjukkan kecintaan terhadap ilmu dan dunia membaca. Keterbatasan ekonomi keluarga tidak menghalangi langkahnya untuk terus belajar dan meraih cita-cita.

Masa remajanya menjadi periode penting dalam pembentukan intelektualitasnya. Ketika menempuh pendidikan di Jember, ketertarikannya terhadap tafsir, hadis, fikih, akidah, filsafat, dan ilmu sosial semakin berkembang. Bahkan sejak tingkat sekolah menengah, ia telah menulis sejumlah buku dan mulai menerjemahkan karya berbahasa Arab. Pertanyaan tentang makna hidup, hubungan agama dan masyarakat, serta bagaimana manusia yang berbeda keyakinan dapat hidup bersama menjadi benih pemikiran yang kelak mewarnai perjalanan akademiknya.

Dari Fakultas Ushuluddin Menuju Dunia Akademik

Tahun 1994 menjadi titik penting ketika Najib melanjutkan pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah Filsafat. Jakarta mempertemukannya dengan lingkungan sosial, budaya, dan keagamaan yang jauh lebih beragam dibandingkan kampung halamannya. Di sinilah cara pandangnya berkembang semakin terbuka.

Ia aktif berdiskusi, mengikuti kegiatan keilmuan, menulis di media, serta terlibat dalam organisasi mahasiswa seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Buku-buku filsafat, pemikiran Islam modern, dan teori sosial menjadi bagian dari kesehariannya. Ia juga mulai menulis untuk sejumlah media nasional, termasuk Kompas, Media Indonesia, dan Republika.

Pengalaman di Fakultas Ushuluddin menjadi fondasi penting dalam perjalanan intelektualnya. Najib belajar bahwa ilmu agama bukan sekadar alat untuk menghakimi, melainkan sarana untuk memahami kehidupan, membuka ruang dialog, dan membangun kemanusiaan. Dari sinilah tumbuh karakter intelektualnya yang inklusif dan humanis.

Menembus Batas Akademik Internasional

Setelah menyelesaikan pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, perjalanan Najib tidak berhenti. Ia sempat bekerja sebagai wartawan dan kemudian melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ia menempuh studi di Universiteit Leiden, Belanda, dalam bidang teologi dan Islamic Studies.

Tidak berhenti di sana, ia kemudian memperdalam kemampuan metodologi penelitian di University of Manchester, Inggris, melalui bidang Social Research Methods and Statistics. Pengalaman tersebut memperkuat kemampuannya membaca fenomena agama melalui data dan pendekatan ilmu sosial.

Puncak perjalanan akademiknya ditempuh di University of California, Santa Barbara (UCSB), Amerika Serikat, melalui program doktoral Religious Studies. Lingkungan akademik yang multikultural mempertemukannya dengan berbagai tradisi agama dan pemikiran. Di sana ia mengembangkan kajian tentang kelompok-kelompok minoritas dalam Islam, termasuk Ahmadiyah, Syiah, Yazidi, dan Alawi.

Disertasinya mengenai Ahmadiyah di Indonesia menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan akademiknya. Kajian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keagamaan tidak dapat dilihat hanya dari perspektif teologi, tetapi juga harus dipahami melalui dimensi sosial, politik, budaya, dan kemanusiaan.

Karya yang Menembus Batas

Kekuatan Prof. Ahmad Najib Burhani tidak hanya terlihat dari perjalanan pendidikannya, tetapi juga dari karya-karya yang dihasilkan. Salah satu karya pentingnya adalah Muhammadiyah Jawa, yang memberikan perspektif berbeda mengenai hubungan Muhammadiyah dengan tradisi dan budaya lokal Jawa.

Karya lainnya, When Muslims are Not Muslims: The Ahmadiyya and the Contest of Religious Identity in Indonesia, memperlihatkan konsistensinya dalam mengkaji persoalan identitas keagamaan, kebebasan beragama, dan hak-hak kelompok minoritas. Ia juga menulis artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional seperti Indonesia and the Malay World, Sojourn, Islam and Christian-Muslim Relations, Studia Islamika, dan The Muslim World.

Salah satu kontribusi pentingnya adalah memperkenalkan gagasan “menemani” minoritas. Istilah ini dipandang lebih setara dibandingkan “membela” atau “mendampingi”, karena menempatkan kelompok minoritas sebagai subjek yang memiliki suara dan kemampuan memperjuangkan haknya sendiri, sementara kelompok lain hadir sebagai teman dalam perjuangan membangun kehidupan yang adil.

Melalui kajian Muhammadiyah Jawa, Najib juga menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak selalu identik dengan sikap anti-tradisi. Ia memperlihatkan adanya proses adaptasi dan dialog antara Muhammadiyah dengan budaya lokal, sehingga hubungan Islam modernis dan tradisi lokal dapat dipahami secara lebih kompleks.

Mengubah Cara Memandang Studi Agama

Salah satu jejak terpenting Prof. Ahmad Najib Burhani adalah kontribusinya dalam memperkuat pendekatan scientific study of religion. Baginya, agama dapat dikaji secara ilmiah sebagaimana fenomena sosial lainnya—melalui pendekatan politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Pendekatan ini membuat isu-isu yang selama ini dianggap sensitif atau tabu, termasuk persoalan kelompok minoritas, dapat diteliti secara objektif, ilmiah, dan kritis. Agama tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan halal-haram atau benar-salah, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Karya dan pemikirannya kemudian membawanya ke berbagai forum akademik dan internasional. Ia dikenal sebagai peneliti, penulis, dan pembicara yang banyak membahas Islam moderat, pluralisme, kebebasan beragama, politik identitas, relasi agama dan negara, serta dinamika kelompok minoritas.

Ilmu yang Berujung pada Kemanusiaan

Lebih dari sekadar gelar akademik dan deretan karya, perjalanan Prof. Ahmad Najib Burhani menunjukkan sebuah prinsip yang konsisten: ilmu harus kembali kepada manusia.

Dari seorang anak kampung di Blitar, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, wartawan, peneliti, hingga akademisi yang menempuh pendidikan di Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat, perjalanan Najib memperlihatkan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi ruang pembentukan intelektual yang panjang.

Ia menunjukkan bahwa keimanan tidak harus berhadapan dengan ilmu pengetahuan, dan keberagamaan tidak harus bertentangan dengan kemanusiaan. Justru, ilmu dan iman dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, terbuka, dan beradab.

Jejak Prof. Ahmad Najib Burhani pada akhirnya bukan hanya tentang buku, penelitian, gelar, maupun panggung akademik. Lebih dari itu, ia adalah tentang keberanian untuk terus bertanya, kesediaan memahami perbedaan, serta keyakinan bahwa ilmu akan menemukan maknanya ketika berpihak pada kemanusiaan.

Penasaran dengan kisah lengkap Prof. Ahmad Najib Burhani? Nantikan peluncuran buku “Pengukir Jejak, Penuntun Arah: 25 Tokoh Inspiratif Alumni Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” pada perayaan Milad Fakultas Ushuluddin. Stay tuned!

Scroll to Top