NENG DARA AFFIAH: Menjahit Kesetaraan di Persimpangan Agama, Budaya dan Perubahan


(Oleh: Tim Liputan Ikalfu)

JAKARTA, IKALFU.COM – Di tengah perdebatan sengit antara upaya mempertahankan tradisi dan dorongan modernisasi, nama Neng Dara Affiah muncul sebagai salah satu tokoh intelektual publik yang paling vokal dan teguh. Melalui pemikiran dan kiprahnya, sosiolog dan aktivis hak perempuan ini berupaya ‘menjahit’ kesetaraan, memastikan bahwa nilai-nilai keadilan tidak tergerus oleh tafsir agama yang kaku maupun oleh arus perubahan yang kehilangan akar budaya.


Menyulam Progresifisme dengan Akar Kuat


Neng Dara Affiah dikenal sebagai pejuang yang menenun gagasan progresif dengan dua benang utama: akar agama dan kearifan budaya. Ia menolak pemahaman yang sering kali menempatkan perempuan dalam stereotipe atau memitoskan pembagian tugas berdasarkan gender sebagai ‘takdir’ ilahi, melainkan sebagai hasil dari negosiasi sosial yang bisa dan harus diubah demi kemanusiaan yang utuh.


“Peran-peran pembagian tugas [antara laki-laki dan perempuan] itu dipahami sebagai takdir. Padahal, itu bukan takdir melainkan negosiasi. Inilah yang harus kita bongkar. Mengapa kita memitoskan sesuatu sebagai takdir padahal seandainya hal itu tidak membuat kita menjadi manusia seutuhnya, mari kita ubah,”ujarnya dalam salah satu diskusi.


Kritik tajamnya sering tertuju pada praktik sosial yang cenderung menyalahkan korban (seperti kasus KDRT atau pelecehan seksual) dan politisasi agama yang justru merugikan perempuan, menunjukkan betapa pesan agama seringkali menjadi tidak ramah terhadap kelompok yang rentan.


Jalan Pembaharuan Masyarakat yang Adil


Kiprah Neng Dara Affiah, yang juga merupakan seorang dosen dan mantan Komisioner Komnas Perempuan, membuka jalan dialog kritis. Ia mengajak masyarakat Muslim untuk kembali kepada nilai-nilai universal agama yang menjunjung tinggi keadilan (‘adl) dan kemaslahatan, seraya memanfaatkan kearifan lokal untuk merespons tantangan zaman.


Dengan menggabungkan analisis sosiologis dan pemahaman keagamaan yang mendalam, Neng Dara Affiah berhasil menginspirasi lahirnya masyarakat yang adil dan setara, di mana identitas gender dan latar belakang budaya tidak menjadi penghalang bagi setiap individu untuk meraih kemanusiaan penuh. Ia membuktikan bahwa Islam dan feminisme progresif bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat saling memperkuat dalam membangun peradaban yang inklusif.


[BACA BERITA SELENGKAPNYA: Pindai QR Code di bawah atau kunjungi Ikalfu.com untuk analisis mendalam mengenai pemikiran Neng Dara Affiah dan dampaknya pada gerakan perempuan Muslim di Indonesia.]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top