AKADEMISI SOROTI IRONI DI KAMPUS: Mahasiswa Kian Bergantung pada AI, Kemampuan Berpikir Kritis Terancam Punah

Jakarta– Ketergantungan berlebihan mahasiswa perguruan tinggi terhadap teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk menyelesaikan tugas akademik telah memunculkan ironi intelektual yang mengkhawatirkan. Alih-alih meningkatkan efisiensi belajar, penggunaan AI yang tidak bijak justru dinilai mengancam kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas mahasiswa, sebuah temuan yang disoroti oleh Bahriyadi, dosen UIN jakarta Fakultas Ushuluddin

Kondisi ini terjadi karena mahasiswa cenderung mengandalkan jawaban instan dari chatbot AI, melewatkan proses analisis dan sintesis informasi yang merupakan inti dari pembelajaran di tingkat universitas.

“Kami melihat ada gap yang serius. Mahasiswa mampu menyerahkan tugas dengan format yang sempurna, namun ketika diuji tentang kedalaman substansi dan orisinalitas gagasan, hasilnya sangat minim,” kata Bahriyadi [Dosen UIN Jakarta Fakultas Ushuluddin], dalam konferensi pers kemarin.

Ancaman terhadap Skills Abad ke-21

Menurut Prof. Budi, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kesiapan lulusan di dunia kerja. Keterampilan yang sangat dibutuhkan, seperti pemecahan masalah kompleks, penalaran logis, dan kreativitas, tidak dapat diasah jika mahasiswa terus mencari jalan pintas.

“Tujuan tugas akademik adalah untuk melatih otot berpikir, bukan hanya menghasilkan produk. Jika AI melakukan semua ‘latihan’ tersebut, apa yang tersisa dari mahasiswa saat mereka lulus nanti?” ujarnya retoris.

Data sementara dari beberapa perguruan tinggi menunjukkan peningkatan drastis dalam penggunaan alat AI generatif dalam enam bulan terakhir, bersamaan dengan lonjakan tugas yang terindikasi memiliki pola penulisan yang seragam dan kurangnya personal touch.

Institusi Diminta Bertindak Cepat

Menyikapi perkembangan ini, Bahriyadi mendesak pihak universitas untuk segera merevisi metode asesmen dan kurikulum. Strategi yang disarankan meliputi:

  1. Redesain Tugas: Menciptakan tugas yang bersifat aplikatif, analisis kasus spesifik, atau menuntut refleksi personal mendalam yang sulit diotomatisasi oleh AI.
  2. Literasi AI: Mengintegrasikan mata kuliah atau modul pelatihan tentang etika dan penggunaan AI yang bertanggung jawab, mendudukkan AI sebagai mitra bantu, bukan pengganti kerja.
  3. Penegakan Etika: Memperjelas sanksi akademik bagi praktik “plagiarisme AI” yang menyajikan karya buatan mesin sebagai hasil pemikiran orisinal.

“Kita harus memastikan bahwa mahasiswa hari ini tumbuh menjadi master yang mampu mengendalikan dan memanfaatkan teknologi canggih ini, bukan malah menjadi kaki tangan dari AI. Ironi ini harus dihentikan demi kualitas generasi penerus bangsa,”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top